Rabu, 14 Juli 2010

Berawal di Mesir Berakhir di Palestina (Bagian 12)

Bab XIII: Sejarah Talmud dan Kaitannya dengan Zionis (bag. 4)


Zionism adalah akidah dan manhaj Yahudi yang tertera secara global di dalam kitab Perjanjian Lama dan secara rinci di Talmud. Akidah dan manhaj zionism ini yang berdiri atas keyakinan bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang paling utama di dunia, mereka dasarkan kepada sebuah perintah Tuhan kepada Nabi Ibrahim as untuk meninggalkan negeri asalnya yang terletak antara dua sungai menuju negeri Kan’an untuk menetap di sana. Ini menurut keyakinan mereka yang dipelopori oleh Rabi Ezra, adalah sebuah janji Tuhan kepada Bani Israel bahwa Kan’an (atau Palestina saat ini) adalah milik mereka, dan bukan milik bangsa lain meski nama Palestina saat ini adalah diambil dari bangsa Philistine yang mendiami tanah Kan’an sebelum Bani Israel.

Nama gerakan ini diambil dari sebuah bukit Sion. Filsafat Zionism memandang bahwa orang Yahudi tidak akan mungkin menemukan jati dirinya kecuali di negeri Isarel, dan bahwa Allah tidak akan mungkin disembah kecuali di negeri Israel.
Zionisme yang mulai diletupkan oleh Rabi Ezra yang melihat Bani Israel tercerai-berai setelah hancur oleh bangsa Babilonia dan mendapat izin dari kerajaan Persia, adalah filsafat pengembalian bangsa Yahudi ke tanah Palestina untuk mendirikan kerajaan Israel Raya.

Bangunan filsafat Zionism berdiri atas pemikiran fanatisme terhadap ras Yahudi dan atas tafsiran pembangkangan Yahudi, yaitu tidak taat kepada Yahweh (Nama Tuhan agama Yahudi) dengan cara mengkhianati bangsa atau ras Yahudi dan berbaur dengan bangsa Goyim (nama panggilan orang non-Yahudi oleh Yahudi), lalu memakai adat istiadat mereka.

Bangunan filsafat Zionism juga berdiri atas pemikiran tentang adanya suatu kelompok Yahudi yang tidak berdosa, tidak mengkhianati ras Yahudi, dan hanya memperhatikan kepentingan Yahudi, lalu Yahweh akan mengirim seorang penyelamat (messias) atau orang yang mendapat petunjuk (al mahdi) pada mereka untuk mengembalikan kerajaan Israel Raya. Sang penyelamat ini akan kembali membangun sebuah kerajaan teladan yang wajib direalisasikan agar keadilan dunia merata, lalu Yahweh akan ridha pada mereka sehingga bumi akan mengeluarkan susu dan madunya.

Zionism tidak hanya terbangun dari penafsiran salah akan Taurat (Taurat yang dimaksud ini adalah “karya” dari rabi Ezra dan Nehemia), ideologi ini juga terinspirasi lebih nyata dalam Talmud. Ini bukanlah hal yang mengejutkan. Ketika Rabi Ezra dan Nehemia mulai menyusun Taurat mereka juga mulai menyampaikan “Taurat Lisan” kepada Bani Israel dan menyebutkan bahwa inilah saat kebangkitan kembali kejayaan Bani Israel dengan satu nama agama baru dan ras baru: Yahudi.

Untuk menyebutkannya secara terang-terangan di Taurat adalah tidak mungkin, maka para rabi menyatakan bangunan ideologi tersebut dalam “Taurat Lisan” atau Talmud.
Meski ideologi Zionism belum memiliki nama ini pada zaman tersebut, namun cikal-bakal gerakan ini mulai bangkit perlahan-perlahan di zaman penjajahan bangsa Romawi. Di zaman inilah awal gerakan zionism yang masih prematur dan belum mengakar.
Seperti yang penulis sampaikan pada artikel sebelumnya, ideologi ini lahir dari keprihatinan para rabi (Ezra dan Nehemia) yang melihat Bani Israel terjajah tidak ada habisnya dan mereka berada di negeri Babilonia di bawah kekuasaan bangsa Persia.

Jauh dari tanah Palestina, mendapatkan pengaruh paganisme, tercerai-berai baik ikatan keluarga maupun religius dan tidak memiliki tokoh pemersatu membuat semua ini sebagai inspirasi bagi para rabi untuk menyatukan mereka seperti zaman Nabi Daud. Beliau adalah satu-satunya tokoh pemersatu sekaligus pembawa kejayaan Bani Israel di tanah Palestina. Dan para rabi mengambil alih ketokohan Nabi Daud yang tidak hanya seorang Nabi tapi sekaligus seorang pemimpin dan raja, dalam struktur bangsa Yahudi: pemimpin spiritual sekaligus pemimpin umat dalam politik.

Oleh karenanya, dalam Talmud begitu besar kekuasaan para rabi ini. Dan rabi melihat ini sebagai peluang untuk mencapai “angan-angan di siang bolong” bahwa Yahudi harus menjadi pemimpin dunia. Sebuah mimpi yang terbangun dari lintas zaman penjajahan dari bangsa-bangsa lain.

Sebagai gambaran utuh berikut penulis sajikan kepada Anda runtutan zaman penjajahan yang diderita oleh Bani Israel dan Yahudi secara beruntun:

1. Kerajaan Babilonia (586-538 sM)
2. Kerajaan Persia (538-330 sM)
3. Kerajaan Yunani (330-323 sM)
4. Kerajaan Yunani dinasti Ptolemaik (323-200 sM)
5. Kerajaan Yunani dinasti Seleucid (200-167 sM)
6. Kerajaan Yunani dinasti Maccabee (167-63 SM)
7. Imperium Romawi (63 sM-638 M)

Seiring berjalanya waktu, keberadaan rabi yang menyampaikan Talmud semakin beragam, seiring itu pula terjadi pertentangan dan timbul sekte-sekte. Dan kepemimpinan rabi pun semakin tidak memiliki kewibawaan.

Untuk menyelesaikan masalah penting ini yaitu kekosongan kepemimpinan, maka dihembuskan oleh para rabi akan ide Raja keturunan Nabi Daud yang disebut Al Masih al Muntadhor, Al Masih yang Ditunggu-tunggu.

Mahdisme atau mesianisme adalah falsafah atau akidah kaum Yahudi. Mereka berpendapat bahwa al Masih adalah juru selamat yang akan membebaskan kaum Yahudi dari perbudakan dan penganiayaan bangsa-bangsa lain. Kehadiran al Masih ini akan membawa mereka kepada keadilan dan kedamaian, dan bumi akan menjadi subur.
Konsep al Masih yang merupakan keturunan dari Nabi Daud inilah yang membuat para rabi untuk membuat konsep kerja yang lebih nyata tapi dibungkus dalam kesucian, maka lahirlah kitab Talmud tersebut.

Adapun dalam praktik langsung di lapangan dalam bentuk non-religius maka lahirlah konsep politik jahat Zionis dalam kerangka kerja yang terkenal : 
The Protocol of Learned Elders of Zion.

Protokol ini yang sudah masyhur dan terkuak oleh sejarah inilah kerangka kerja Zionis di dunia saat ini. Dan protokol inilah diterjemahkan secara sempurna oleh Yahudi di Amerika Serikat dalam politik, ekonomi, budaya, pendidikan, dan seluruh elemen kehidupan.

Sebelum penulis sajikan kepada Anda isi keseluruhan dari protokol tersebut, ada baiknya penulis sajikan kepada Anda terlebih dahulu isi kitab Talmud yang menjadi inspirasi isi dari protokol tersebut.

Berikut beberapa kutipan yang penulis sajikan kepada Anda (jika Anda ingin mengecek secara langsung isi Talmud dalam versi bahasa Inggris silakan buka situs 
www.sacred-text.com):
Sanhedrin, hal 2 no 58:

Bani Israel lebih tinggi derajatnya di sisi Allah daripada malaikat. Jika seorang Yahudi memukul orang Yahudi, maka seolah-olah orang itu telah memukul Tuhan. Kaum Yahudi adalah bagian dari Allah, seperti seorang anak merupakan bagian dari bapaknya. Oleh karena itu, apabila seorang non-Yahudi memukul orang Yahudi maka orang itu harus dihukum mati.
Bayamut, no 6:

Kaum Yahudi akan menjadi bernajis apabila ia menyentuh kuburan orang-orang non-Yahudi karena mereka itu adalah binatang, bukan manusia.

(dalam kitab Bibel, Keluaran pasal 12 ayat 16: Hari-hari raya yang suci bukanlah dijadikan untuk orang-orang asing dan bukan pula untuk anjing-anjing)
Sanhendrin (74b) Tosepoth:

Hubungan seksual orang Goim adalah seperti hubungan seksual binatang.

Orang Goim adalah istilah dalam agama Yahudi untuk panggilan orang-orang non-Yahudi, baik itu secara ras maupun agama. Pada awalnya, istilah Goim ini dinisbahkan kepada orang-orang Nashrani, namun seiring waktu Nabi Muhammad menyebarkan Islam dan mulai menguak kebohongan dan kejahatan mereka, maka istilah Goim ini semakin melebar tidak hanya untuk kaum Kristiani tetapi juga untuk orang Islam dan secara umum non-Yahudi.
Dalam istilah Yahudi Madinah, istilah Goim ini mereka ganti dengan istilah ummi, yaitu orang yang buta huruf dan tidak memiliki kitab petunjuk. Sebagaimana yang Allah rekam kalimat mereka ini dalam ayat ke- 75 surta Ali Imran berikut ini:

“Hal demikian karena mereka mengatakan bahwa tidak ada dosa atas kami terhadap orang-orang ummi.”
Abhodah Zorah (22b):

Mengapa orang Goim itu najis? Karena tidak berada pada Gunung Sinai. Karena ketika ular memasuki Siti Hawa, ia menuangkan najis. Akan tetapi, orang-orang Yahudi sudah bersuci darinya ketika mereka berdiri di atas gunung Sinai, sedangkan orang Goim tidak demikian pada waktu itu di atas gunung Sinai, maka mereka tidak menjadi suci.

Masih banyak lagi isi dari Talmud yang begitu rasialis dan provokatif untuk mencela dan menghina orang non-Yahudi. Belum lagi pemutar-balikan hukum riba yang merupakan salah satu hukum dari Ten Commandments ini dirubah oleh mereka dalam Talmud hingga kini riba menjelma secara sistematis dalam perekonomian dunia dalam jubah perbankan dan kapitalisme.

0 Komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More