Rabu, 20 Januari 2010

Kisah penampakan Pterodactyl di langit Indonesia

Juni2008, Sekitar 150 mil sebelah timur laut Bali, Sebuah pesawat keciljenis Britten Norman Islander sedang terbang melayang pada ketinggian6.500 kaki. Sang pilot yang sedang mengemudikan pesawat itu tiba-tibadikejutkan dengan sebuah objek besar yang muncul dihadapan mereka.Pilot, dengan ketrampilannya segera menukikkan pesawat ke bawah untukmenghindar. Pilot dan Kopilot hanya melihat objek tersebut selamabeberapa detik, namun cukup untuk mengenali objek tersebut sebagaiseekor Pterodactyl, burung purba yang sudah punah jutaan tahun yang lalu.



Seorangpembaca blog ini pernah bertanya, Benarkah Pterodactyl pernah terlihatdi Indonesia ? Jawabannya Ya ! Penampakan Pterodactyl yang satu initerdokumentasi dengan baik di dunia Cryptozoology Internasional.
 

Kembali ke penggalan paragraf diatas,pilot tersebut melihat makhluk itu selama sekitar 5-6 detik sedangkankopilot sekitar 2-3 detik. Waktu yang sedikit tapi cukup untukmengidentifikasi makhluk tersebut. Mereka mengaku menyaksikan makhlukitu mengepakkan sayapnya dengan malas.
 
 
Beberapa orang beranggapan mereka berduamenyaksikan seekor burung pelikan, namun kedua awak pesawat itu yangmerupakan mantan pilot angkatan laut mengatakan bahwa makhluk tersebutterlalu besar untuk ukuran seekor pelikan, lagipula warnanya jauh lebihgelap dibanding pelikan. Dan satu fakta lagi yang menunjukkan bahwamakhluk tersebut bukan pelikan adalah perjumpaannya yang terjadi diketinggian 6.500 kaki.

Karena tidak menemukan penjelasan, merekalalu mencari via google dengan mengetik kata "Pterodactyl". Dan lewatsitu, mereka menemukan makhluk yang mirip dengan deskripsi Pterodactyl,yaitu Ropen. Lalu mereka berdua memutuskan untuk mengirim email keJonathan Whitcomb, seorang peneliti Ropen ternama di dunia, untukmenceritakan perjumpaan mereka dengan makhluk tersebut. Inilah asalmulanya penampakan ini menjadi terkenal ke seluruh dunia.

Ropen, adalah sejenis makhluk terbang raksasayang mirip dengan Pterodactyl. Ekornya memiliki panjang lebih dari 25%rentang sayapnya dan dipercaya hidup di Papua Nugini. Para saksimenceritakan bahwa ketika Ropen terbang, mereka bisa melihat iamengeluarkan cahaya.

Namun sesungguhnya para ahli Cryptozoologyjuga tidak dapat memastikan perbedaannya yang signifikan denganPterodactyl. Nama Ropen adalah nama yang diberikan oleh penduduk pulauUmboi di Papua Nugini, tempat dimana makhluk terbang seperti Pterodactylsering terlihat. Selain Ropen, makhluk sejenis ini dikenal dengannama-nama seperti Ahool, Duwas, Indava, Seklo Bali dan Kundua.Nama-nama yang berbeda ini diberikan oleh para penduduk lokal sesuaidengan bahasa masing-masing.

Jadi sebenarnya ada kemungkinan bahwa Ropen, Pterodactyl dannama-nama lain yang saya sebut adalah makhluk yang sama. Mungkin parailmuwan lebih suka menggunakan nama Ropen dikarenakan mereka percayabahwa Pterodactyl telah punah puluhan juta tahun yang lalu.

Sayang,informasi mengenai perjumpaan ini tidak terlalu detail. Apakah pilotdan kopilot pesawat berkebangsaan Indonesia ? atau berkebangsaan asing? Pesawat kecil itu disebut terbang dari Australia menuju Bali sehinggaada kemungkinan pilot tersebut berkebangsaan Australia. Untukalasan-alasan tertentu, mereka menolak jati diri mereka diungkap kepublik. Saya juga tidak dapat menemukan informasi lebih lanjut mengenaiperistiwa ini.

Apakah mereka berbohong ? Tapi jika ya, untuk apa ?

0 Komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More