Selasa, 03 Agustus 2010

Holocaust Bag 2

Kontroversi Tentang Holocaust (II)

Holocaust deniers lebih suka disebut sebagai Holocaust ‘revisionists’. Kebanyakan ahli sejarah mengatakan bahawa istilah ini menyesatkan. ‘Historical revisionism’ adalah bahagian daripada ilmu sejarah iaitu penyelidikan ulang dari ‘accepted history’ (sejarah yang sudah diterima secara umum) dengan tujuan untuk lebih memperjelas peristiwa tersebut. Sebaliknya, ‘negationist’ secara sengaja menggunakan catatan sejarah yang salah seperti ditulis Gordon McFee, “Revisionists depart from the conclusion that the Holocaust did not occur and work backwards through the facts to adapt them to that preordained conclusion. Put another way, they reverse the proper methodology … thus turning the proper historical method of investigation and analysis on its head.”

Public Opinion Quarterly juga menyimpulkan : “Tidak ada ahli sejarah terkemuka yang mempersoalkan kebenaran Holocaust, dan mereka yang mendukung ‘Holocaust denial’ kebanyakannya adalah anti-Semitik atau neo-Nazi.”
Kontroversi Tentang Holocaust (III)

‘Holocaust denial’ sangat popular kepada penentang-penentang Israel daripada golongan Muslim kerana memang banyak bukti yang dikeluarkan oleh ilmuwan barat sendiri yang menjelaskan kebohongan Holocaust ini. Dr. Mahmoud Abbas Presiden Palestina meragui bahawa kamar gas digunakan untuk membunuh orang-orang Yahudi dan mengatakan bahwa jumlah orang Yahudi yang dibunuh dalam Holocaust kurang daripada 1 juta orang. Abbas belum pernah menyatakan pandangan ini sejak menjadi Perdana Menteri Palestin pada tahun 2003, dan dia menafikan bahawa dia adalah seorang ‘Holocaust denier’. Pada akhir 2005, Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad pula mengeluarkan kenyataan dengan menggambarkan Holocaust sebagai ‘mitos pembantaian orang Yahudi’.

Beberapa penentang mengenai kebenaran Holocaust itu sendiri bahkan terdiri daripada mangsa yang terselamat dalam kejadian tersebut. Misalnya pada tahun 1964, Paul Rassinier yang merupakan mangsa yang terselamat dalam korban Holocaust telah menerbitkan sebuah buku bertajuk ‘The Drama of European Jews’. Dalam bukunya, beliau menyatakan bahawa sebenarnya tidak terjadi pembunuhan beramai-ramai oleh Nazi terhadap Yahudi, jumlah korban tidak sebesar itu (6 juta), dan tidak ada bilik gas beracun.
Bilik Gas Beracun (I)

Bilik gas memang terdapat di Auschwitz (Jerman). Namun, para penyelidik menyatakan bahawa bilik gas Zyklon-B tidak mungkin digunakan untuk membunuh manusia, melainkan untuk pengasapan pakaian untuk memusnahkan bakteria. Dari prosedur kesihatan inilah, mitos pembunuhan didalam bilik gas muncul. 

Arthur Butz menyatakan bahawa gas Zyklon-B tidak digunakan untuk membunuh manusia, tapi untuk proses menghilangkan bakteria pada pakaian dalam buku yang ditulisnya, ‘The Hoax of the 20th Century : The case against the presumed extermination of European Jewry’ pada 1976. 

Pada Mei 1988, Dr. David Irving seorang pakar sejarah Britain yang mengkhusus dalam kajian Perang Dunia Kedua membentangkan laporan yang dibuat oleh Fred A Leuchter, seorang pakar rekaan dan peniruan alat membunuh, termasuk bilik gas beracun. Leuchter yang mengkaji dan mengambil sampel dari bilik kem tahanan Auschwitz, Birkenau dan Lublin menegaskan tiada proses menyalurkan gas beracun berlaku.

Malah, apa yang mengejutkan Leuchter, tiada sebarang kesan beracun sianida dikesan dalam sebarang bilik kem terbabit. Kajian juga menyatakan sejenis racun yang didakwa digunakan untuk membunuh Yahudi, Zyklon-B, sebenarnya hanya digunakan untuk membunuh serangga. Ini kerana Zyklon-B meninggalkan kesan yang tidak boleh hilang meskipun selepas beratus tahun dan kajian tidak menemui kesan ketara penggunaan racun itu.
Bilik Gas Beracun (II)

Pada tahun 1991, kerajaan Poland mengulangi ujian ini dalam usaha menyangkal hasil penemuan Leuchter, tetapi mereka juga gagal menemui sebarang bukti peristiwa kejam itu berlaku.

Kewibawaan mengenai bilik membunuh ini juga amat palsu. Kajian menunjukkan bilik ini hanya sekadar bilik biasa yang tidak kedap udara dan mempunyai ruang udara yang agak besar pada lantai dan bawah pintu. Jika benar Jerman menyalurkan gas dibilik terbabit, pasti racun ini turut mematikan tentera. Selain itu tiada peralatan lain bagi melakukan proses itu ditemui.

Meskipun dakwaan 6 juta orang mati akibat gas beracun, tiada satu pun mayat yang dihimpunkan selepas perang sama ada didalam kubur besar atau reput ditepi kem tahanan, dijalankan bedah siasat bagi membuktikan punca sebenar kematian mereka.

Kebanyakan mangsa yang maut itu adalah rakyat Jerman dan hanya segelintir Yahudi.

Malah, kajian juga membuktikan, tentera Jerman memerlukan masa 68 tahun untuk menyumbat tahanan dalam bilik beracun seperti di Auschwitz, bagi membunuh enam juta Yahudi!
Dikalangan ilmuwan barat sendiri ada beberapa orang yang menyangkal kewujudan Holocaust, diantaranya Pengarang Perancis Roger Garaudy, Professor Robert Maurisson, Ernst Zundel dan David Irving. 

Tetapi hampir semua yang menafikan kewujudan Holocaust ini dimasukkan kedalam penjara. Ernst Zundel seorang penafi Holocaust dihukum 5 tahun penjara. Seorang peguam, Herbert Schaller, menghujah bahawa semua bukti tentang adanya Holocaust hanyalah berdasarkan pengakuan korban-korbannya saja, bukan berdasarkan fakta-fakta yang jelas. Ernst Zundel ini juga pernah ditahan pada tahun 1985, dan 1988 dalam kes yang sama. Penahanan ini bertentangan dengan apa yang dilaungkan oleh negara barat tentang kebebasan berpendapat.

Jika Holocaust hanyalah sekadar isu hoax, apa pula agenda disebaliknya?

Yahudi tentu saja mengambil peluang dari pembohongan besar-besaran mereka ini. Mereka yang merasa menjadi mengsa kekejaman era Nazi kemudian menuntut tanah di Palestin, terus meminta ganti rugi kepada Jerman, meminta dana pembangunan daripada negara lain dan sentiasa memelihara isu Holocaust. Tak hairan lagi, Israel seringkali bersembunyi disebalik Holocaust atas semua aksi keji dan biadab mereka!


yastro.blogspot.com/2010/07/holocaust-siri-2.html

Selasa, 20 Juli 2010

Un2kmU - Baju Sekolah Adikku yang Sulit Terbeli

Tulisan ini tidak bermaksud menyerang sekolah tertentu atau Dinas Pendidikan tertentu di Indonesia, hanya sekadar menyindir mereka saja.
Curhatan ini adalah kisah nyata dan ditulis oleh kawan saya, Arsy. Izin penerbitan dari yang bersangkutan juga sudah diberikan kepada pihak blog Un2kmU. Semoga dapat menjadi renungan dan bahan koreksi bagi pihak-pihak yang terkait yang ada di tulisan ini. Selamat membaca. :)
Tulisan ini hanyalah sebagian curhatku terhadap rasa kecewa dan benciku kepada negara Indonesia ini yang dimana rakyat yang menipu akan berjaya dan rakyat yang berbuat jujur akan tertindas dan melarat.
Peristiwa ini baru saja aku alami siang tadi (20/07/2010) ketika adikku bilang kepadaku bahwa ada pengumuman mengenai pembayaran seragam sekolah. Pikirku paling-paling juga sekitar 150-200 ribu, melihat dari tahun-tahun sebelumnya yang harganya sekitar itu, meskipun dari segi kualitas sendiri bisa kubilang jauh dari kata pantas.
Ketika adikku mengatakan kalau harus membayar sejumlah uang yaitu sebesar 650 ribu aku langsung kaget.
“Itu cuma buat baju seragam doang? Berapa setel?” kutanya adikku.
Ternyata dengan harga segitu hanya mendapat 2 potong baju seragam lengkap dengan bordir lokasi, nama, dan logo sekolah, kemudian celana pendek biru 2 potong, 1 potong celana pendek putih untuk upacara, 1 potong baju batik, 1 setel baju olahraga, dan 1 setel baju pramuka lengkap dengan semua atributnya. Awalnya kupikir mungkin bahan bajunya pakai Japan Drill jadi harganya segitu, tapi ternyata waktu aku melihat salah satu orang tua murid yang sudah membeli baju seragam itu dan melihatnya, ternyata kualitasnya jelek! Malah hampir setara dengan baju seragam di emperan & ITC.
Saat itupun langsung aku menghadap kepala sekolah untuk negosiasi.
Aku bilang kepadanya, “Saya hanya mau membeli baju batik dan seragam olahraga saja.”
Tapi respon dari kepsek itu langsung membuatku jengkel. Dia bilang “O itu nggak bisa, harus sepaket. Kalau nggak mau kaya gitu ya jangan sekolah disini aja.”
Jadi sekarang sekolah punya wewenang untuk menentukan harga seragam?
Setelah itu aku langsung menghubungi Dinas Pendidikan dan memberitahu mengenai hal ini, tapi respon mereka makin membuatku jengkel, mereka bilang“Wajar aja, kan udah ga ada DSP (Dana Sumbangan Pembangunan) lagi.”
Setelah itu ada salah satu orang tua yang memberi saran kepadaku untuk lapor ke DPR, tapi menurutku hal tersebut percuma saja, melihat kinerja DPR sekarang membuatku pesimis untuk meminta bantuan para “tikus-tikus uang” itu.
Lagipula aku bukan melapor untuk meminta-minta, aku hanya ingin kebenaran yang sepantasnya. Jangan sampai tiap sekolah memiliki wewenang sendiri untuk menentukan harga seragam seperti itu, lalu di mana peran pemerintah dan DPR sebagai wadah aspirasi rakyat?
Mungkin untuk beberapa orang uang sebesar itu bukanlah apa-apa, tapi bagiku uang sebesar itu sangatlah besar, bahkan uang sebesar itu bisa dipakai untuk membayar SPP ku satu semester.
Pikiran-pikiran negatifku mulai muncul, di mana aku melihat orang-orang itu hanyalah orang-orang yang korupsi dalam pekerjaannya. Aku sendiri tau kalau aku tidak boleh berpikir seperti ini, tapi pengalamanku membuatnya seperti ini. Seperti pada saat ujian nasional kemarin, alhamdulillah adikku bisa mengerjakan seluruh soal dengan baik dan JUJUR hingga mendapatkan hasil yang memuaskan.
Dari dulu aku sudah memberi pesan kepada adikku kalau apapun yang terjadi tetaplah berbuat jujur, meskipun seluruh dunia menjadi musuhmu, tapi Allah lah yang akan menjadi hakim dan penyelamat kita. Ketika teman-teman dan gurunya mengharuskan untuk kerja sama dan membantu orang lain dalam ujian, adikku tidak menggubrisnya, meskipun hal tersebut membuat peringkat adikku saat mendaftar di SMP Negeri 11 Bandung agak tergeser dengan orang lain yang rata-rata nilanya 8,7 keatas.
Tapi memang benar-benar mengherankan, banyak sekolah dan siswa yang menolak adanya ujian nasional, tapi nilai yang mereka dapatkan bisa kubilang OVERKILL untuk ukuran ujian nasional, nilai 8 masih dibilang kecil, dan nilai 9 adalah suatu keharusan. Kenapa mereka harus protes jika mereka bisa mendapat nilai sebesar itu? Ataukah nilai tersebut palsu? Tidak sesuai dengan kemampuan mereka?
Selain itu orang tuaku sendiri memiliki toko seragam makanya aku tahu benar mengenai baju seragam, kualitas, dan harganya. Mungkin ini tidak etis untuk disebarluaskan, tapi memang keadaan keluargaku yang sulit untuk dapat memenuhi keinginan sekolah tersebut.
Aku adalah anak tertua di keluargaku yang sudah bekerja dari SMP kelas 3 untuk membantu ekonomi keluargaku, aku memiliki 2 orang adik, dan orang tuaku sudah cerai dan aku tinggal bersama ibuku sekarang. Ayahku sendiri sudah 4 tahun lebih tidak ada kabar. Maka dari itu aku terus berusaha meskipun hidupku hancur tapi yang penting kedua adikku berhasil dalam hidupnya.
Mungkin sekian saja curhatku kali ini. Mohon maaf bila ada salah kata atau ada yang tersinggung. Dan terima kasih. :)
Arsy
NOTE : Saya tidak akan menyebutkan nama lengkap dan fotonya. Tapi jika pihak yang terkait dalam tulisan ini ingin menghubunginya silahkan menghubungi saya disini!. Tulisan ini ditujukan untuk mengungkap kebenaran, agar tidak ada yang dirugikan lagi di kemudian hari. Semoga Allah memberikan kesabaran kepada Arsy dan keluarganya, serta bagi pihak-pihak yang mendzaliminya diberikan kesadaran. Amin. :)

Sumber berasal dari blog: un2kmu.wordpress.com/2010/07/20/curhat-sahabat-baju-sekolah-adikku-yang-sulit-terbeli/ saya hanya bermaksud sharing saja.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More